Pelayanan GKP Jemaat Bogor


Sebuah Kajian Umum

Seiring berjalannya waktu dan melalui beberapa kali pergantian pengurus (di tingkat MJ maupun Komisi dan Kepanitiaan), pelayanan GKP Bogor menunjukkan adanya perkembangan. Hal ini terlihat dari semakin banyaknya bidang-bidang pelayanan yang dikembangkan di GKP Bogor.

Meski demikian, ruang untuk terjadinya peningkatan pelayanan senantiasa terbuka. Salah satunya adalah memperkuat sistem organisasi. Dengan begitu diharapkan pelayanan yang dibangun oleh seluruh komponen gereja mengarah pada satu titik yang sama sekaligus menghindarkan fragmentasi pelayanan gereja. “Perbedaan arah vektor menghasilkan selisih, yang sama artinya dengan mengabaikan sebagian energi potensial”, misalnya: pengulangan program, program yang tumpang tindih (overlap), atau program tidak sinambung, dan beberapa hal lain yang berdampak langsung terhadap alokasi waktu dan dana.

Salah satu ciri yang terlihat akibat sistem organisasi yang belum kuat adalah cukup besarnya konsentrasi tersita pada masalah-masalah elementer: konsentrasi ‘susu’ lebih besar daripada ‘makanan keras’ yang salah satunya diindikasikan oleh rendahnya angka kehairan jemaat dalam kegiatan-kegiatan pembinaan. Untuk itulah sistem yang dibangun harus mampu menyeimbangkan “panggilan” dan “keharusan” (konsekwensi kristiani). Artinya ada kondisi tertentu yang sengaja diciptakan dalam rangka pembinaan (conditioning). Ciri yang lain adalah adanya ketidakseimbangan antara “sasaran tembak” dengan “senapan”. Dalam beberapa hal bahkan seringkali menjurus kepada pemborosan.

Dalam rangka mencoba memetakan sistem pelayanan di GKP Bogor, beberapa hal berikut perlu dibahas sebagai unsur2 yang menjadi kesatuan yang mempengaruhi derap langkah perjalanan gereja, yaitu:

  1. Sumber daya manusia (SDM)
  2. Database jemaat
  3. Pengetahuan, wawasan dan karakter
  4. Sistem organisasi
  5. Sistem komunikasi dan informasi
  6. Mobilisasai
  7. Keuangan/pendanaan

1. Sumber Daya Manusia (warga jemaat)

Warga jemaat yang dimaksud adalah persekutuan orang percaya yang melaksanakan panggilan gereja dengan tertib dan teratur, bagian dari gereja yang esa, dan am, hidup sebagai murid Tuhan yang menghayati dan melaksanakan tertib hidup persekutuan.

2. Database Jemaat (Pemetaan)

Masalah kelengkapan database jemaat memang telah diupayakan melalui berbagai metode dan pendekatan. Namun hingga kini rupanya belum semua warga jemaat terdata. Database yang seyogyanya bisa memetakan jemaat menurut berbagai macam kategori, belum dapat digunakan secara optimal. Karena itu perlu adanya pendataan ulang sambil mengoptimalkan pengolahan data dengan sistem teknologi informasi mutakhiryang dapat membantu kelancaran pelayanan gereja baik yang sudah, sedang dan yang akan dikerjakan.

3. Pengetahuan, Wawasan dan Karakter

Sebuah persekutuan atau jemaat bukan terjadi atas dasar inisiatif manusia, melainkan inisiatif Allah. Didalamnya terkandung kehendak Allah agar manusia mampu menjadi saksi-saksiNya. Oleh karena itu gereja senantiasa melakukan tugas pelayanan pemberitaan “kabar baik”, baik kepada sesama warga jemaat maupun kepada masyarakat sekitar. Di dalam kabar baik itu terkandung nilai-nilai pengetahuan, wawasan dan karakter yang senantiasa dibangun menuju kesempurnaan Kristus. Ini adalah konsekuensi sekaligus komitmen dari sebuah persekutuan. GKP Bogor telah, sedang dan akan terus melakukan pembinaan ini. Yang perlu dilakukan sekarang adalah upaya2 perbaikan yang memungkinkan pembinaan terjadi secara menyeluruh, berjenjang di semua aras, dan berkesinambungan yang pada waktunya akan memberi buah.

4. Sistem Organisasi

Memperhatikan perkembangan pelayanan GKP Bogor maka berikut ini coba dibangun sistem organisasi menyangkut (1) struktur organisasi dan (2) anatomi penatalayanan yang diharapkan mendekati harapan dan pergumulan sekarang ini dalam pengejawantahan tema “gereja bagi sesama”. Untuk itu aplikasi struktur dan anatomi pelayanan gereja merujuk kepada hakikat tugas gereja yang melekat dalam tri tugas gereja yaitu PERSEKUTUAN, PELAYANAN dan KESAKSIAN, dengan mengacu kepada :

  • TG dan PPTG GKP Bab 2 Pasal 5
  • Kejelasan arah tujuan pelayanan gereja yang lebih terukur dan terpikir
  • Keterlibatan semua unsur disemua lini dalam pengembangan tugas gereja
  • Kepentingan merancang sentralisasi program yang berdampak kepada sentralisasi keuangan

5. Sistem Komunikasi dan Informasi

Untuk menunjang kelancaran program kerja dan koordinasi antara  satu bagian dengan bagian lain, antara pengurus dan anggota jemaat, maka perlu adanya peningkatan sistem dan perangkat komunikasi-informasi yang sistematis dan terpadu. Berbagai media yang ada dapat dioptimalkan sehingga memudahkan proses komunikasi dan penyebaran informasi sekaligus sebagai media pembinaan.

6. Mobilisasi

Dengan rancangan program gereja yang telah tersusun dan disetujui jemaat, maka selanjutnya diperlukan aksi mobilisasi yang menggerakkan jemaat agar program-program tersebut berjalan sesuai rencana. Aksi mobilisasi yang dimaksud merupakan suatu gerakan terpadu dari tingkat MJ hingga komisi-komisi, panitia, pengurus sektor dan seterusnya. Secara khusus aksi mobilisasi diprioritaskan kepada :

  • Mobilisasi doa
  • Mobilisasi tugas gereja: persekutuan, pelayanan dan kesaksian
  • Mobilisasi penggalangan dana
  • Mobilisasi pengadaan sarana penunjang

7. Pendanaan

Dengan adanya kesatuan program, baik dari tingkat MJ hingga komisi-komisi, maka gerakan sentralisasi keuangan dapat terjadi. Apabila dibuat konsentrasi keuangan, maka hal tersebut akan dengan mudah terlihat dalam tri tugas gereja: berapa persen untuk persekutuan, berapa persen untuk pelayanan, dan berapa persen untuk kesaksian. Dengan demikian warga jemaat dapat dengan mudah mengikuti pergerakan persebaran keuangan yang terhimpun.

Idealnya kebutuhan dana untuk membiayai program gereja yang beragam dapat tercukupi oleh pemasukkan melalui persembahan jemaat. Namun fakta menunjukkan bahwa program gereja harus selalu ditunjang oleh penggalangan dana ekstra: berupa bazaar, pengajuan proposal dan sebagainya. Penggalangan dana yang selama ini dilakukan merupakan inisiasi komisi atau panitia. Apabila sentralisasi program dan sentralisasi dana telah tercapai, maka wewenang dan mobilisasi penggalangan dana ada pada majelis jemaat. Teknis pelaksanaan dapat didelegasikan kepada m komisi-komisi secara bergilir. Beberapa hal lain untuk tujuan peningkatan kualitas dan kuantitas, disampaikan oleh bendahara.

sumber : bahan rapat koordinasi MJ dan Komisi-komisi (Januari 2012)

Iklan

2 pemikiran pada “Pelayanan GKP Jemaat Bogor

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s