DICARI: PARA PRIA YANG MEMPUNYAI 4I

Suatu Pemikiran tentang Perlunya Persekutuan Kaum Pria

Masalah karir, keluarga, dan pelayanan banyak yang harus “ditangani sekaligus” oleh kaum pria/bapak. Namun, sering dijumpai ketidaksiapan/ ketidakseimbangan, bahkan “ketiadaan” (Absence) peran yang jelas dari seorang pria. Sebagai contoh, dalam banyak keluarga hanya ibu yang berperan. Ibu yang banyak berinisiatif minta pendapat/nasehat/ konseling kepada para konselor/ hamba Tuhan. Apalagi kalau menyangkut masalah anak (pergaulan, sekolah, dan pacaran), sering kali ibu lebih concern ketimbang ayah. Tak jarang kaum ibu merasa tertekan. Pada waktu penulis menanyai para konseli (ibu), “Mana bapaknya, Bu?” Sering kali sang ibu menjawab, “Wah, susah Pak. Bapaknya anak-anak selalu sibuk, tak ada waktu. Dia sama sekali tidak memperhatikan keluarga. Padahal yang punya anak ‘kan dia juga. Tapi, semua urusan mesti istri yang mengerjakan.” Keluhan seperti ini bukan hanya sekali dua kali penulis hadapi, tetapi sangat sering!!! Karena itu, ijinkan penulis menghimbau kaum bapak untuk membaca, merenungkan, sekaligus meresponi peran kita sebagai kaum pria.

Men Of Integrity (Pria Berintegritas)

Kata Ibrani untuk integritas mencakup pengertian whole, sound, unimpaired, memiliki hati yang tulus. Orang yang berintegritas memiliki etika dan moral yang baik, tak ada kemunafikan, dan bertekad memegang janji (dari sini muncul istilah promise keeper = pemegang janji, suatu gerakan pria di Amerika yang memiliki komitmen untuk kembali pada janji mereka). Pria yang berintegritas adalah pria yang antara ucapan dan tindakannya sama benar, tak ada yang disembunyikan, tidak mendua.

Sedikit sekali dalam masyarakat kita jumpai orang yang memiliki karakter semacam itu. Krisis integritas telah menyentuh berbagai lapisan, termasuk pemerintahan. Dalam komunitas Kristen, integritas sangat diperlukan dalam pelayanan. Menurut Steve Sonderman yang sangat concern terhadap pelayanan kaum pria, integritas pelayanan akan muncul/nampak dalam tiga hal:

(1) Integritas nampak dalam pengakuan. Pria berintegritas tahu apa yang mereka yakini dan lakukan. Ia tahu apa yang benar. Ia tak mudah tergoyahkan. Ia tahu apa yang harus dilakukan, meski harus membayar harga yang mahal.

(2) Integritas nampak dalam keselarasan (their walk matches their talk). Apa yang dikomunikasikan kepada istri dan anak selaras dengan apa yang dilakukan. Istri dan anak tak akan begitu saja percaya kepada suami/ayah yang hanya kelihatan “saleh” di gereja namun “salah” dalam keluarga, kantor, dan komunita lainnya. Para pria perlu mengembangkan konsistensi antara apa yang mereka lakukan pada hari Minggu dan apa yang mereka lakukan pada hari lain.

(3) Integritas nampak dari karakter. Para pria perlu menunjukkan “kejujuran” dalam bertindak. Dengan kesadaran bahwa “Saya tak mau melakukan hal yang salah bukan karena takut dilihat oleh orang-orang di sekitar saya. Saya melakukan hal yang benar karena itulah karakter saya. Sekalipun saya pernah berbuat salah, saya tak akan malu mengakuinya, dan saya akan memohon pemulihan dari Tuhan.”

Men of Intimacy (Pria “Berdekatan”)

Sulit menemukan terjemahan yang tepat tanpa menghilangkan arti dan keindahan kata intimacy. Intimacy (keintiman) berasal dari bahasa Latin intus yang artinya within (di dalam). Dengan demikian, keintiman berarti membagi kehidupan dengan yang lain, membiarkan orang lain masuk ke dalam hati kita yang”terdalam” dan kita menjelajah ke dalam hati mereka sedemikian sehingga keduanya menjadi satu.

Para pria perlu mengembangkan kedekatan (intimacy) di dalam tiga area kehidupan:

(1) Ia memerlukan kedekatan dengan Allah. Para pria perlu menyadari bahwa Allah menjadikan manusia untuk mengenal Dia – bahkan lebih dalam dari itu. Manusia perlu to enjoy Him, to experience Him. Manusia diciptakan oleh Allah untuk Allah. Ia dapat menikmati kehadiran Allah setiap waktu dalam hidupnya.

(2) Ia memerlukan kedekatan dengan istri. Para pria perlu menyadari untuk melihat pernikahan bukan sekedar sebagai “the marriage thing,” misalnya dengan cara membelikan barang-barang untuk istri tapi meninggalkan istri “di belakang.” Pernikahan bukanlah hanya menyangkut benda-benda yang diberikan. Perhatian, kasih, kedekatan, dan keterlibatan emosi adalah hal yang amat dibutuhkan seorang istri. Seorang ahli mengklasifikasikan kedekatan dalam beberapa hal tersebut:

Emosi: tertawa dan menangis bersama
Sosial: pergi, berjalan, menemui teman-teman bersama
Fisik: berpegangan tangan, bersentuhan
Rohani: berdoa bersama, beribadah bersama

Kedekatan/keintiman antara suami dan istri melibatkan semua hal: membagi impian, harapan, ketakutan, dan kegagalan; beranjak lambat laun dari “the marriage thing” sampai menjadi “total person.”

(3) Ia memerlukan kedekatan dengan orang lain. Para pria memerlukan persekutuan dengan sesama pria dalam bentuk “male-friendship/fellowship.” Dalam Alkitab terdapat banyak tokoh yang memiliki sahabat pria: Musa- Harun; Yosua – Kaleb; Daud – Yonathan; Paulus – Barnabas, Timotius, Lukas; Tuhan Yesus – Petrus, Yakobus, Yohanes, para murid. Amsal 27:17 menyatakan, “besi menajamkan besi, para pria (terjemahan harfiah dari teks Ibrani, LAI menterjemahkan dengan kata ‘orang’) menajamkan sesamanya.” Kebanyakan pria tidak memiliki teman dekat – khususnya secara rohani. Kita harus menciptakan situasi yang memungkinkan para pria merobohkan tembok-tembok pemisah dan saling mengenal satu dengan yang lain. Kekristenan bukan “a solo sport” (olah raga tunggal). Para pria hendaklah bertumbuh bersama di dalam persekutuan – saling mendukung dan menguatkan.

Men of Identity (Pria Beridentitas)

Alkitab menyuguhkan model yang positif dan prinsip maskulinitas sejati yang menyeluruh dari seorang pria. Para pria digambarkan memiliki identitas yang jelas. Mereka dicipta oleh Allah, segambar dengan rupa Allah. Mereka dicipta secara unik, baik secara kepribadian, temperamen, maupun fisik. Di mata Allah, kita berharga dan dikasihi. Allah mengasihi kita sampai Tuhan Yesus rela mati untuk kita.Maskulinitas sejati kita dapatkan dari Tuhan Yesus. Ia dapat menangis dan penuh belas kasihan; tetapi Ia dapat tegas dan keras seperti paku. Ia berani menegur orang Farisi dan ahli Taurat, tetapi di lain saat begitu lembut berbicara dan memberi pertolongan. Para pria perlu menyatakan identitasnya dengan jelas di tengah-tengah dunia ini.

Men of Influence (Pria Berpengaruh)

Para pria perlu menyadari perubahan dunia dan masyarakat saat ini. Kita hidup dengan dua tujuan. Kita hidup untuk kekekalan bersama Kristus, tapi semasa hidup ini kita menginvestasi banyak hal dalam memberi pengaruh pada orang lain – bahkan keluarga kita sendiri.

Mazmur 78 menggambarkan bagaimana ayah mengajar anak, dan pada gilirannya anak mengajar generasi berikutnya. Generasi berikut dipengaruhi oleh tindakan kita hari ini. Kita dapat mempengaruhi anak yang lahir pada abad ke-21 sejak saat ini. Betapa besar pengaruh ayah dalam kehidupan anak-anak. Dietrich Bonhoeffer pernah berkata: “A righteous man is one who lives for next generation.” Itulah pengaruh.

Seandainya kaum pria (kaum bapak) dapat memiliki empat karakter demikian, tentunya peran dan kehadiran para pria di tengah keluarga, lingkungan pekerjaan, dan masyarakat sosial akan sangat terasa. Marilah para pria, kita bergandeng tangan, bersekutu, dan membentuk suatu “fellowship” tempat anda tidak merasa berjuang sendiri menghadapi tantangan hidup ini. Ingatlah bahwa kehadiran anda di tengah rekan lain sangat berarti.

Sumber:
oleh: G. I. Dedy Sutendi, M.Div.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s