Hermeneutik

Oleh : Pdt. Suluh Sutia S.Si

Dewa Hermes

Dalam mitologi Yunani ada satu tokoh yang bernama Hermes. Dalam beberapa kesempatan Hermes ditampilkan dalam rupa seekor anjing, khususnya anjing pembawa pesan, anjing yang sangat cerdas. Hermes dikenal sebagai utusan para dewa. Namun bagi sebagian pelaut, Hermes adalah dewa, yaitu dewa pembuka jalan yang mampu menunjukkan jalan-jalan yang tersembunyi. Mereka meyakini bahwa Hermes juga dapat menyingkapkan berbagai macam misteri sehingga setiap orang dapat memperoleh kejelasan tentang suatu fenomena. Ia juga mampu menafsirkan fenomena-fenomena rumit yang dialami oleh manusia. Singkatnya, Hermes dianggap sebagai dewa pencerahan yang dapat memperjelas pesan dan fenomena yang dialami manusia, baik pesan suka maupun duka. Ia adalah dewwa yang jujur, yang menyampaikan pesan apa adanya.

Dalam dunia literasi kuno, beberapa orang memposisikan Hermes sebagai juru bicara Zeus dengan tugas utama menjelaskan kemauan Zeus. Hermes adalah dewa yang memberikan pencerahan kepada banyak orang melalui banyak hal yang dapat diterjemahkan, maupun ditafsirkan. Dari kata Hermes inilah muncul istilah baru yang disebut Hermeneutik.

Hermeneutik adalah satu cabang ilmu literasi, termasuk juga cabang illmu filsafat. Fungsi utama Hermeneutik adalah memberikan pesan yang cukup bagi penerima pesan, baik sebagai pendengar maupun pembaca. Secara harafiah Hermeneutik berasal dari kata Hermeneutin (kk) = menafsirkan, menerjemahkan, menerangkan, sedangkan Hermeneutika (kb) = tafsiran, terjemahan. Cabang ilmu filsafat ini dapat diterapkan pada semua bidang sastra/literasi. Dengan cabang ilmu ini, diharapkan setiap orang tidak hanya mengalihkan bahasa saja, melainkan dapat pula menyampaikan pemahaman dari teks tertentu. Bukan cuma sekedar dapat MENGEJA, melainkan dapat MEMBACA. Hal terpenting dari Hermeneutik adalah memahami “jiwa” teks dan penekanan atau pesan utama dari teks tesebut dan menghubungkannya dengan konteks masa kini. Oleh karena itu cabang ilmu ini dapat difungsikan untuk memahami makna pesan Kitab Suci.

Lingkaran Hermeneutik

Pada saat seseorang membaca terks, tentulah ia telah memiliki pandangan/pikiran tertentu tentang teks yang akan dibacanya. Artinya tidak kosong samasekali. Paling tidak ia berfikir akan menemukan hal yang baru dari teks yang akan dibacanya, inilah yang disebut PRA-PAHAM, bukan PRA-SANGKA (pra-sangka = pendapat/pendirian yang telah dimiliki dan diyakini kebenarannya dan membaca sebuah teks dalam rangka mendukung pandangannya tersebut).

Dalam Hermeneutik, Pra-Paham menjadi salah satu modal untuk dapat menghasilkan pesan dari teks yang dibacanya. Hasil pemahaman inilah yang disebut eksegese. Sementara itu, Pra-Sangka menjadi titik awal dari eksegese. Dua hal inilah yang harus kita kritisi untuk membuat penafsiran terhadap sebuah teks, terkhusus jika teks tersebut adalah Alkitab.

Saat kita mencoba menafsirkan teks Alkitab, perlu kita sadari bahwa Alkitab adalah kesaksian iman atas tindakan Allah yang diyakini oleh penulisnya (dan juga kita) sebagai kebenaran yang dituliskan pada zaman dan situasi/waktu tertentu yang pastinya sangat berbeda dengan zaman kita sekarang. Yang penting adalah mendapatkan makna dari tulisan tersebut bagi konteks kehidupan kita dimasa sekarang.

Untuk itu, proses Hermeneutik perlu dijalankan melalui beberapa tahapan. Tahap Pra-Paham diperhadapkan pada teks Alkitab dengan makna tertentu di masa lalu (apa berita atau pesannya di masa lalu) untuk kemudian memahami maknanya bagi konteks di masa sekarang. Hal ini akan memberi pembaharuan Pra-Paham.

PROSEDUR PENAFSIRAN

A. Historis

  1. Membaca/memahami Teks (dalam bahasa Indonesia atau bahasa lainnya)
  2. Memperhatikan konteks (ayat atau perikop sebelum dan sesudahnya)
  3. Memasuki DUNIA PENULIS :memperhatikan sejarah tradisi dan seting kehidupan pada saat Teks ditulis (oleh karena itu diperlukan literasi yang berkaitan  dengan konteks pada masa itu)
  4. Memaknai pesan bagi konteks masa kini.

B. NARATIF

  1. Membaca/memahami Teks (dalam bahasa Indonesia atau bahasa lainnya)
  2. Memperhatikan konteks (ayat atau perikop sebelum dan sesudahnya)
  3. Memasuki DUNIA CERITA : memperhatikan komponen-komponen Teks (plot/alur cerita, karakterisasi tokoh/penokohan, konflik yang terjadi, seting dalam teks, atmosfir, ironi, sudut pandang tokoh-tokoh, narator, dan sebagainya).
  4. Memaknai pesan bagi konteks masa kini. [SS]
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s