JIWA DAN SEMANGAT PERUBAHAN

Kerendahan Hati di Hadapan Allah :

JIWA DAN SEMANGAT PERUBAHAN


Oleh : Pdt. Suluh Sutia, S.Si

Penulis surat Ibrani menggambarkan kehidupan iman jemaat tak ubahnya seperti proses pertumbuhan seorang anak menjadi sosok yang dewasa (bdk Ibrani 5:12-13). Salah seorang Bapa Gereja pernah berujar bahwa Gereja perlu terus menerus memperbaharui diri. Pada kesempatan lain, salah seorang teolog besar di awal abad 20 pernah menggambarkan pula bahwa ciri khas sebuah jemaat disebut sebagai gereja yang hidup adalah dengan adanya perubahan-perubahan, sebab hidup berarti mengalami perubahan. Semua itu menegaskan bahwa memang sudah menjadi kodratnya gereja mengalami perubahan. Perubahan adalah sebuah keniscayaan dari organ yang hidup.

Tentang perubahan ini, memang ada banyak jenisnya. Oleh karena itu tentu kita juga perlu mengingat sebuah petuah orang tua, bahwa hari esok harus lebih baik daripada hari ini. Maka perubahan yang dimaksud tentulah perubahan ke arah yang lebih baik. Perubahan di dalam tubuh gereja tentulah dalam rangka perbaikan diri terus menerus sehingga menghasilkan buah-buah seperti yang diharapkan oleh Sang Kepala Gereja, yaitu Yesus Kristus. Itulah arah perubahan gereja.

Gereja adalah organ yang hidup, sebuah komunitas yang selalu bergerak secara dinamis. Di dalam gereja terdapat banyak sekali warga gereja dengan segala potensinya. Warga gereja mengalami perubahan, baik secara fisik, pemikiran, psikis, perasaan, dan seterusnya. Oleh karena itu gereja sebagai komunitas – tidak bisa tidak – niscaya mengalami perubahan. Pergantian personalia dan struktur kemajelisan maupun pengawas perbendaharaan jemaat serta komisi pun adalah bagian dari proses kehidupan komunitas yang selalu berubah. Perubahan ini adalah gambaran gereja yang terdorong untuk senantiasa memberikan kesempatan bagi orang lain untuk terlibat dalam pelayanan, bahkan juga cermin komunitas yang selalu berusaha memperbaharui diri, dan dengan demikian menjadi ciri gereja yang tidak anti terhadap perubahan, terlebih ke arah yang lebih baik lagi.

Dalam rangka mewujudkan kehidupan yang menghasilkan buah yang baik, bukan sekedar berubah, maka gereja perlu untuk menundukkan diri di bawah otoritas Kepala Gereja. Butuh kerendahan hati mengakui bahwa kita semua adalah hamba-hamba Allah yang sudah selayaknya mengikuti keinginan Sang Tuhan. Demikian pula perlu disadari oleh setiap warga gereja, terlebih setiap pelayan Tuhan yang dipilih-Nya mengemban tanggung jawab melayani jemaat-Nya, untuk merendahkan hati dan diri di hadapan-Nya. Perendahan diri ini menjadi bentuk pengakuan bahwa pemilik otoritas tertinggi adalah Sang Kepala Gereja. Itulah semangat yang mesti ada di dalam setiap individu pelayan Tuhan, sehingga harapan tejadinya perubahan ke arah yang lebih baik, harapan menghasilkan buah-buah yang baik, akan terealisasi.

Sementara itu, berdampingan dengan para pelayan Tuhan itu, warga gereja pun tentulah harus memiliki semangat yang sama, yaitu semangat perubahan dengan kerendahan hati di hadapan Allah. Maka wujud yang akan dihasilkan adalah sebuah gereja/jemaat yang hidup dinamis/berubah dengan kerjasama yang baik antara warga jemaat dan para pelayan Tuhan.

Dengan semua dasar itulah, penting bagi kita semua mengawali periode pelayanan yang baru dengan kesehatian dan berusaha saling merendahkan diri di hadapan Allah. Bersama-sama, maka segenap bagian dan unsur GKP Jemaat Bogor akan menjadi gereja yang sesuai dengan kehendak Allah.[SS]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s