DICARI: PARA PRIA YANG MEMPUNYAI 4I

Suatu Pemikiran tentang Perlunya Persekutuan Kaum Pria

Masalah karir, keluarga, dan pelayanan banyak yang harus “ditangani sekaligus” oleh kaum pria/bapak. Namun, sering dijumpai ketidaksiapan/ ketidakseimbangan, bahkan “ketiadaan” (Absence) peran yang jelas dari seorang pria. Sebagai contoh, dalam banyak keluarga hanya ibu yang berperan. Ibu yang banyak berinisiatif minta pendapat/nasehat/ konseling kepada para konselor/ hamba Tuhan. Apalagi kalau menyangkut masalah anak (pergaulan, sekolah, dan pacaran), sering kali ibu lebih concern ketimbang ayah. Tak jarang kaum ibu merasa tertekan. Pada waktu penulis menanyai para konseli (ibu), “Mana bapaknya, Bu?” Sering kali sang ibu menjawab, “Wah, susah Pak. Bapaknya anak-anak selalu sibuk, tak ada waktu. Dia sama sekali tidak memperhatikan keluarga. Padahal yang punya anak ‘kan dia juga. Tapi, semua urusan mesti istri yang mengerjakan.” Keluhan seperti ini bukan hanya sekali dua kali penulis hadapi, tetapi sangat sering!!! Karena itu, ijinkan penulis menghimbau kaum bapak untuk membaca, merenungkan, sekaligus meresponi peran kita sebagai kaum pria.

Lanjutkan membaca “DICARI: PARA PRIA YANG MEMPUNYAI 4I”